Perjuangkan Spine Institute

DR. Dr. Basuki Supartono SpOT, MARS -

Kecintaannya akan dunia orthopaedi muncul saat dokter saat menjalani PTT . Kala itu, Dr. Fachrisal Ipang SpOT(K)-SPINE menjadi tim kesehatan gabungan (Setgab) di Ambon yang sedang mengalami konflik pada tahun 2000. Konflik meninggalkan banyak PR baginya, terutama kasus orthopaedi. Ia pun jadi jatuh hati karenanya. Selain faktor kebiasaan, ada alasan kuat mengapa bidang ortopaedhi begitu menarik perhatiannya. “Pada tindakan orthopedi, umumnya membawa perubahan nyata pada pasien. Dari yang tadinya tidak bisa jalan, jadi bisa jalan. Diagnosisnya juga pasti misalnya kasus patah tulang dapat terlihat dengan jelas patahannya, dan sebagai dokter kita langsung bisa merencanakan tindakan apa yang tepat,” jelasnya. Dr. Fachrisal juga terenyuh dengan banyaknya salah penanganan di masyarakat. Banyak kasus orthopaedi yang sebetulnya ringan malah menjadi berat karena kesalahan penanganan “Masyarakat cenderung percaya ke alternatif terapi tulang. Permasalahannya, mereka tidak menyampaikan informasi yang benar tentang kondisi pasien,” jelasnya.

Tak jarang pasien kemudian mengalami komplikasi lanjutan yang seharusnya tidak harus terjadi jika mereka datang ke dokter lebih awal, imbuhnya. Bukan tanpa fakta ia berkata demikian. Kebanyakan kasus yang ia tangani ternyata hasil pengobatan alternatif, “Seharusnya pasien hanya akan mengalami disabilitas rendah, bahkan hanya butuh gips. Tapi karena salah urut, kondisi pasien jadi tambah parah. Sampai-sampai pasien harus operasi, “terangnya. Fakta-fakta itulah yang pada akhirnya membuat hatinya terketuk untuk mendalami dunia orthopaedi agar bisa mengedukasi masyarakat luas.

Dalami Tulang Belakang

Saat menempuh pendidikan spesialis di Universitas Indonesia, kesehariannya banyak ia habiskan untuk menangani masalah spine (tulang belakang). Itulah yang mendasari

Dr. Fachrisal mengambil sub spesialisasi ini. Ia pun lulus dengan mulus. “Senior saya Dr. dr. Luthfi Gatam SpOT(K) SPINE, mengajak saya bergabung di RS. Fatmawati. Sayapun tidak menyiakan kesempatan ini,” jelasnya. Menurutnya, profesi dokter ahli tulang belakang bukanlah bidang favorit para dokter. Meski banyak yang berminat di bidang ini, hanya sedikit orang yang mau terjun dan mengambil risikonya. Prosedur tindakan yang relatif lebih lama dan berisikolah menjadi kemungkinan alasannya. Kabar baiknya, bidang orthopaedi di Indonesia terus berkembang.

“Dahulu, dokter hanya terpaku pada kasus-kasus trauma dan neglected. Tapi saat ini, sudah cenderung melakukan penaganan kasuskarena penyakit degeneratif (penuaan).Selain itu, tindakan minimal invasive surgery Indonesia juga sudah jauh berkembang di banding beberapa tahun yang lalu. Bahkan bisa dibilang sudah hampir menyamai Negara di ASIA dan Negara maju lainnya,” jelasnya. Saat ini jumlah dokter orthopaedi di Indonesia sudah jauh berkembang. Tahun ini, jumlahnya mencapai500 orang (PABOI). “Sayangnya masih terpusat di kota-kota besar, seperti di Jakarta, “bebernya. Hal ini menjadi alasan mengapa masyarakat masih kesusahan untuk mendapatkan akses keberadaan orthopaedi.

Kembangkan Spine Institute

Dalam perbincangan singkat kami, ia berbagai kabar baru tentang akan dikembangkannya spine institute di RS Fatmawati. Pengembangan ini, kata Dr. Fachrisal ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan tulang belakang masyarakat. Spine Institute dirasa perlu untuk menjadi wadah mediasi para dokter orthopaedi dalam menyamakan prosedur pelayanan. Dr. Fachrisal mengatakan, saat ini terdapat perbedaan prosedur pelayanan di masing-masing center orthopaedi. Ini karena setiap center memiliki pengalaman yang berbeda dalam menangani sebuah kasus. Sebagai contoh, center A lebih memilih untuk melakukan operasi effusi, sementara center B mungkin tidak, padahal dengan diagnosis yang sama. “Inilah mengapa perlu di buat standar prosedur yang sama untuk sebuah tindakan” jelasnya. Melalui SPINE institute, semua dokter orthopaedi bisa melakukan pertemuan rutin, sekedar berbagi pengalaman atau membahas kasus, setiap 1 - 3 bulan sekali. “Kebiasaan membahas kasus bisa dilakukan lebih intensif untuk menyatukan pendapat, dengan tujuan akhir memajukan pelayanan kesehatan di Indonesia,” terangnya lagi. Selain pengalaman, perbedaan penanganan pasien juga bisa dikarenakan perbedaan standar peralatan yang tidak sama. “Bisa saja, di center A tidak ada mikroskop, di B ada. Tentunya penanganan akan mengalami perbedaan” jelasnya. Harapan lain, setelah institute spine berdiri para dokter akan memiliki registri besar mengenai orthopaedi, yang nantinya bisa diakses seluruh orthopaedi Indonesia.

Sekolah Negeri atau Tukang Bajaj

Kisah masa kecil selalu menarik untuk ditengok kembali. Seperti kebanyakan anak Indonesia umumnya,  Dr. Fachrisal memiliki cita-cita menjadi dokter. “Dengan menjadi dokter saya bisa menolong orang kapan saja, “jelasnya. Selepas lulus SMA, ia mencoba peruntungan melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). UI dipilih sebagai satu-satunya tempat yang memungkinkan saat itu. Selain UMPTN, Ipang-demikian ia kerap disapa- mencoba masuk Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN ) dan Akademi Kimia Industri. “Intinya harus kuliah di perguruan negeri. Itu adalah amanat almarhum Ibu, kalau tidak, Saya diancam jadi tukang bajaj,”candanya.

Bermodalkan kecerdasan serta doa orangtua, semua seleksi perguruan negeri tersebut berhasil ia lewati. “Saya sempat masuk menjalani ospek STAN ospek selama 5 hari, hari ke enam, saya menerima pengumumam diterima di FKUI. Dari situ saya ambil ijasah di STAN , dan masuk ke FKUI. Oleh-oleh di STAN kepala saya botak,” ingatnya. Tahun 1993 ia lulus tanpa rintangan berarti.

Pengalaman PTT

Selesai mengabdi sebagai anggota setgab di Ambon, selama kurang lebih 6 bulan, Dr. Ipang kemudian ditempatkan di Lampung, tepatnya di Kalianda untuk melanjutkan sisa PTT . “Disini saya mengabdi selama kurang lebih 6 bulan” jelasnya. Berbeda dengan suasana di Ambon yang mencekam dan mengharuskan ia menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan segala hal, di Kalianda Ia mendapatkan suasana yang jauh lebih nyaman dan hangat. Sebab itu ita tak ragu bergaul dengan masyarakat sekitar.

Rampung dari Kalianda, Dr. Ipang, tak lekas meneruskan studinya. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan minyak swasta selama dua tahun. Setelah itu barulah ia melanjutkan studi S2 di FKUI dan lulus tahun 2009. Tak lama, ia pun bergabung dengan RS Fatmawati. Tahun berikutnya, ia berkesempatan menjalani fellowship di bidang  SPINE, di kampus yang sama. Dalam proses merampungkan studi, Ia juga sempat menimba ilmu di Jepang. Menimba ilmu di Jepang memberikan pengalaman berharga baginya.

Di sana, ia terkagum-kagum dengan pelayanan orthopedi yang begitu berbalik dengan keadaan di sini. “Di Jepang sangat menerapkan Prinsip minimal invasive, minimal incision, minimal metal works, dan minimal blood lost, bisa di bilang tempat saya belajar ini punya prinsip yang bertentangan dengan keadaan di Indonesia,” ujar Ayah tiga anak ini. Sebagai seorang dokter, kesibukan tak pelak menimpanya. Tak heran, Dokter yang juga beristrikan seorang dokter spesialis jantung ini merasakan susahnya membagi waktu, dan berkumpul dengan anak dan istri. “Istri saya praktek, saya juga sering pulang malam untuk mengani kasus emergency” jelasnya. Demi menjaga kehamonisan keluarga, ia memanfaatkan waktu liburnya dengan berkumpul bersama keluarga. “Jadi harus ada yang mengalah untuk urusan keluarga,” jelas pria kelahiran Jakarta, 20 Februari 1975 ini.

Kategori: 

 
 

Location

Gedung JMC II

Jl. Mampang Prapatan Raya No 75
Jakarta 12790

Indonesia

 

Contact

Telephone

021-7989155, 7980221, 79190003

Email us

dokterkita@cbn.net.id